MEDAN, RABU — Pernikahan dapat menjadi terapi efektif meminimalkan stres. Sebab, dengan pernikahan, segala persoalan tidak lagi dihadapi sendiri dan dipecahkan secara bersama-sama.
"Selain dukungan sosial, pernikahan mendapat tambahan keluarga sehingga dukungan akan berlipat ketika hidup sedang susah. Artinya, bukan hanya dukungan fisik, tetapi juga mental sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya depresi," kata konselor biro positive psychologie, Indah Kemala Hasibuan, di Medan, Rabu.
Sebagai orang Timur, menikah bukan hanya mengikuti sunah Rasul, tetapi juga merupakan suatu panggilan mulia dan mengindari dari pembicaraan orang lain. Pernikahan idealnya merupakan perpaduan komitmen di antara dua individu yang berbeda jenis. Dengan demikian, perkawinan diharapkan menjadi tumpuan kebahagiaan bagi pasangan yang menjalaninya.
Pernikahan dapat memperbaiki prilaku bagi masing-masing pihak. Yang artinya, pernikahan merupakan penyesuaian terhadap pasangan. Perubahan ini biasanya disebabkan oleh rasa tanggung jawab terhadap pasangan yang akhirnya memberikan dampak positif pada kesehatan.
Namun, tidak semua orang dapat merealisasi keinginannya untuk menikah dengan orang yang dicintai. Sebagian dari mereka tetap melajang dan yang lainnya akhirnya menikah dengan berbagai alasan, seperti mengikuti kehendak orangtua, demi status, dan demi kesejahteraan materi.
"Bagi mereka yang cenderung memilih melajang, pada kenyataannya juga tidak selalu tenang menikmati masa-masa melajangnya. Banyak di antara mereka mengalami keraguan pada usia matang menjelang 30 hingga 40 tahunan dan bertanya-tanya mengenai pilihannya, harus menikah atau tidak," katanya.
Minggu, 30 November 2008
Anak Muda Pacaran Hanya lihat sisi Senang saja
SEMARANG, SABTU - Seorang psikolog dari Semarang menyatakan, rata-rata anak muda di Indonesia dalam berpacaran hanya melihat sisi kesenangannya saja, dan tidak melihat sisi lainnya.
"Di kalangan anak muda, rata-rata mereka berpacaran sering tidak melihat sisi lainnya, yang dilihat hanya kesenangan semata. Selain itu banyak anak muda ketika berpacaran sering termakan oleh kata cinta, padahal pacaran yang sehat itu tidak hanya berdasar pada cinta semata," kata dr. Hastaning Sakti, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang di Semarang, Sabtu.
Hasta, begitu panggilan akrabnya, mengatakan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam Road Show Diponegoro Care Centre (DCC) di kampus Psikologi Undip. Pada kesempatan ini Ia juga mengeluhkan dalam berpacaran anak muda saat ini sering menjurus pada hubungan seks di luar nikah yang berakibat pada kehamilan yang tidak diinginkan.
Selain itu, ia menambahkan, sebaiknya anak muda harus melihat dampak buruknya akibat melakukan hubungan seks bebas, seperti terjangkit HIV/AIDS, kehamilan, keguguran, dan dampak psikologi lainnya. "Jadi, kalau menilai pacar jangan hanya dari sisi baiknya saja, harus dilihat dari semua sisi, termasuk jangan melakukan hubungan hubungan seks di luar nikah," katanya mengingatkan.
"Saat ini banyak sekali kasus aborsi karena hamil di luar nikah. Hal ini, disebabkan karena hubungan pacaran yang tidak sehat," demikian Hasta. Road show yang diselenggarakan DCC ini juga mengangkat masalah kesehatan reproduksi serta kekerasan dalam pacaran.
Menurut Nuno, ketua panitia acara, kegiatan ini mengangkat masalah-masalah yang sering dihadapi oleh kalangan remaja seperti aborsi, kekerasan dalam pacaran, dan kehamilan yang tidak diinginkan, serta narkoba.
"Sebenarnya acara-acara sejenis sudah banyak diselenggarakan baik di sekolah, kampus, maupun masyarakat, tapi kami optimis acara ini akan berpengaruh besar bagi pesertanya karena dalam acara ini peserta diajak diskusi dan tukar pendapat," katanya.
Acara DCC di Fakultas Psikologi ini adalah putaran pertama dari keseluruhan acara yang rencananya juga diadakan di semua fakultas di Universitas Diponegoro. "Kami rencananya akan menggelar road show di semua fakultas di Undip, untuk kegiatan di luar bulan-bulan kemarin kami sudah mengadakan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Banten, dan Jawa Barat," kata Nuno.
"Di kalangan anak muda, rata-rata mereka berpacaran sering tidak melihat sisi lainnya, yang dilihat hanya kesenangan semata. Selain itu banyak anak muda ketika berpacaran sering termakan oleh kata cinta, padahal pacaran yang sehat itu tidak hanya berdasar pada cinta semata," kata dr. Hastaning Sakti, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang di Semarang, Sabtu.
Hasta, begitu panggilan akrabnya, mengatakan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam Road Show Diponegoro Care Centre (DCC) di kampus Psikologi Undip. Pada kesempatan ini Ia juga mengeluhkan dalam berpacaran anak muda saat ini sering menjurus pada hubungan seks di luar nikah yang berakibat pada kehamilan yang tidak diinginkan.
Selain itu, ia menambahkan, sebaiknya anak muda harus melihat dampak buruknya akibat melakukan hubungan seks bebas, seperti terjangkit HIV/AIDS, kehamilan, keguguran, dan dampak psikologi lainnya. "Jadi, kalau menilai pacar jangan hanya dari sisi baiknya saja, harus dilihat dari semua sisi, termasuk jangan melakukan hubungan hubungan seks di luar nikah," katanya mengingatkan.
"Saat ini banyak sekali kasus aborsi karena hamil di luar nikah. Hal ini, disebabkan karena hubungan pacaran yang tidak sehat," demikian Hasta. Road show yang diselenggarakan DCC ini juga mengangkat masalah kesehatan reproduksi serta kekerasan dalam pacaran.
Menurut Nuno, ketua panitia acara, kegiatan ini mengangkat masalah-masalah yang sering dihadapi oleh kalangan remaja seperti aborsi, kekerasan dalam pacaran, dan kehamilan yang tidak diinginkan, serta narkoba.
"Sebenarnya acara-acara sejenis sudah banyak diselenggarakan baik di sekolah, kampus, maupun masyarakat, tapi kami optimis acara ini akan berpengaruh besar bagi pesertanya karena dalam acara ini peserta diajak diskusi dan tukar pendapat," katanya.
Acara DCC di Fakultas Psikologi ini adalah putaran pertama dari keseluruhan acara yang rencananya juga diadakan di semua fakultas di Universitas Diponegoro. "Kami rencananya akan menggelar road show di semua fakultas di Undip, untuk kegiatan di luar bulan-bulan kemarin kami sudah mengadakan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Banten, dan Jawa Barat," kata Nuno.
Makanan yang Bikin Sperma Manis
T. Saya dengar rasa cairan sperma seorang pria dipengaruhi oleh apa yang dia makan. Makanan apa yang bisa membuat cairan sperma manis ataupun pahit? Cairan sperma pasangan saya luar biasa pahit.
J. Ya, seperti cairan tubuh lainnya, sperma memang dipengaruhi oleh makanan. Menurut penelitian, makanan asam, seperti buah jeruk, bisa menjadikan cairan sperma manis, sementara makanan seperti asparagus, tembakau, dan beberapa obat-obatan bisa membuat sperma pahit. Jadi, perhatikan apa yang dimakan oleh pasangan Anda.
J. Ya, seperti cairan tubuh lainnya, sperma memang dipengaruhi oleh makanan. Menurut penelitian, makanan asam, seperti buah jeruk, bisa menjadikan cairan sperma manis, sementara makanan seperti asparagus, tembakau, dan beberapa obat-obatan bisa membuat sperma pahit. Jadi, perhatikan apa yang dimakan oleh pasangan Anda.
Langganan:
Postingan (Atom)